Layaknya
seperti orang yang sedang berperang, perbekalan dan senjata yang
lengkap serta strategi yang jitu disebut sebagai kunci keberhasilan. Pun
demikian pada tanaman jagung, menyiapkan “senjata” dan taktik jitu
sejak dini juga menjadi kunci utama untuk melindungi tanaman dari
gempuran penyakit bulai.
Penyakit downy mildew
atau lebih dikenal dengan sebutan penyakit bulai kerap mendapat
perhatian lebih dalam budidaya tanaman jagung. Pasalnya, dibanding
dengan penyakit lainnya, serangan bulai bisa mengakibatkan kehilangan
hasil hingga 100% pada varietas yang rentan.
Selain
itu, penyakit ini juga telah masuk kategori sebagai penyakit paling
berbahaya pada tanaman jagung. Karena, semua kawasan penghasil jagung
dunia, mulai dari Amerika, Afrika, India, Thailand, Filipina, hingga
Indonesia tidak luput dari serangan penyakit ini.
Jamur atau cendawanlah yang menjadi biang kerok di
balik merebaknya serangan bulai tersebut. Dari catatan Wakman dan
Burhanuddin dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, Sulawesi
Selatan, dalam “Pengelolaan Penyakit Prapanen Jagung”, ada 10 spesies
jamur dari tiga generasi yang menjadi penyebab bulai. Di antaranya
adalah: Peronosclerospora maydis (bulai Jawa), Peronosclerospora philippinensis (bulai Philipina), Peronosclerospora sorghi (bulai sorgum), Peronosclerospora saccari (bulai tebu), Peronosclerospora spontanea (bulai Spontanea), Peronosclerospora miscanthi (bulai Miscanthi), Peronosclerospora heteropogani (bulai Rajasthan), Sclerophthora macrospora (crazy top), Sclerophthora rayssiae var. zeae (brown stripe), dan Sclerospora graminicola (bulai Graminicola).
Di Indonesia sendiri, jamur penginfeksi bulai yang banyak berkembang adalah Peronosclerospora maydis.
Menurut Wakman dan Burhanuddin, jamur ini dapat menginfeksi tanaman
jagung muda melalui permukaan daun. Konidia yang disebarkan oleh angin
dan menempel di permukaan daun akan masuk ke jaringan tanaman melalui
stomata tanaman muda dan lesio lokal akan berkembang ke titik tumbuh
yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia jamur sendiri
akan terbentuk dan keluar dari stomata pada malam hari yang lembab.
Karena, P. maydis menghendaki suhu di bawah 240C dan kondisi gelap sekaligus lembab untuk berkembang.
Wakman dan Burhanuddin juga menulis, apabila biji jagung juga terinfeksi jamur P. maydis,
maka kotiledon atau daun yang muncul dari kecambah jagung akan selalu
terinfeksi. Tapi jika sumber inokulumnya dari spora, maka daun kotiledon
akan tetap sehat.
Perlu diketahui juga bahwa
jamur tersebut sejatinya bersifat parasit obligat dimana seluruh
hidupnya berperan sebagai parasit, sehingga hanya mampu berkembang pada
jaringan inangnya. Oleh karena itu, jamur ini hanya akan menyerang
tanaman jagung yang notabene merupakan inangnya.
Tanaman jagung yang terinfeksi P. maydis
biasanya akan menunjukkan gejala berupa perubahan daun jagung yang
menjadi kuning pucat dan bergaris sejajar tulang daun. Lebih lanjut daun
tersebut akan mengalami nekrotik coklat, sempit, dan kaku. Jika diamati
lebih dekat, pada bagian atas dan bawah daun terdapat massa seperti
tepung berwarna putih yang merupakan spora dari jamur P. maydis.
Jika
tidak segera dikendalikan, pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat
dan mengganggu pembentukan tongkol, bahkan bisa sampai tidak bertongkol
sama sekali. Infeksi sistemik pada tanaman muda (berumur 3-4 minggu)
biasanya akan menimbulkan kerusakan parah hingga tanaman mati.
Pengendalian sejak dini
Gejala lainnya adalah terbentuknya anakan yang berlebihan dengan daun-daun yang menggulung dan terpuntir. Bunga jantan yang terbentuk juga akan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daunnya sobek-sobek.
Gejala lainnya adalah terbentuknya anakan yang berlebihan dengan daun-daun yang menggulung dan terpuntir. Bunga jantan yang terbentuk juga akan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daunnya sobek-sobek.
Menurut
Dr. Ir. Andi Khaeruni, MSi., dosen Fakultas Pertanian Universitas
Haluoleo Kendari, untuk mengatasi serangan penyakit tersebut diperlukan
tindakan antisipasi sejak dini dengan mengutamakan prinsip-prinsip
pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT).
“Prinsip
PHT itu adalah dengan menggunakan beberapa metode pengendalian yang
kompatibel dan memberikan hasil yang terbaik,” ujar Andi.
Lebih
lanjut Andi menjelaskan, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan
untuk mengendalikan penyakit pada tanaman jagung secara terpadu. Antara
lain: menggunakan benih yang bebas patogen, yaitu benih yang berasal
dari induk yang sehat (bersertifikat) atau benih yang telah diberi
perlakuan fungisida; Penanaman dilakukan jauh dari pertanaman yang
terinfeksi penyakit; Lakukan teknik budidaya yang baik, sanitasi lahan,
pemupukan berimbang, dan teknik irigasi yang baik, serta pemeliharaan
tanaman; Lakukan pergiliran varietas atau rotasi tanaman pada waktu
tertentu; Dalam kondisi cuaca yang sangat mendukung perkembangan
penyakit, sebaiknya dilakukan pengendalian dengan menggunakan fungisida
atau bakterisida sesuai dosis anjuran.
Andi juga
menekankan pentingnya penggunaan varietas jagung yang tahan terhadap
penyakit bulai. Pasalnya, hal tersebut merupakan salah satu cara yang
paling murah, mudah, aman, dan efektif. “Murah, karena tidak membutuhkan
biaya penyemprotan. Mudah, karena tidak diperlukan teknik khusus. Aman,
karena tidak mempunyai efek residu kimia. Kemudian efektif, karena
dapat mengendalikan penyakit-penyakit yang tidak bisa menggunakan cara
lain,” terangnya.
Sementara itu, Doddy Wiratmoko,
Senior Manager Pengembangan Pasar Benih Jagung PT BISI International,
Tbk., ada beberapa produk benih jagung yang secara genetis memiliki
karakter tahan penyakit bulai. Sehingga bisa dijadikan pilihan dan
andalan para petani jagung. Varietas yang dimaksud antara lain: jagung
super hibrida BISI 18, BISI 816, BISI 222, dan BISI 16.
0 Komentar untuk "MENYIAPKAN SENJATA HADAPI BULAI "